Beranda

Kabupaten Sidoarjo merupakan salah satu penyangga ibukota Propinsi Jawa Timur telah mengalami perkembangan pesat dalam segala sektor. Keberhasilan ini dicapai karena telah berkembangnya potensi yang ada di wilayah tersebut seperti industri dan perdagangan, pariwisata serta usaha kecil dan menengah. Adanya berbagai potensi daerah serta dukungan sumber daya manusia yang memadai, maka dalam perkembangannya Kabupaten Sidoarjo mampu menjadi salah satu daerah strategis bagi pengembangan perekonomian regional.

Potensi Kabupaten Sidoarjo adalah sektor perikanan dan memiliki kawasan tambak seluas 15.430 Ha. Kondisi ini menjadikan Sidoarjo sebagai kawasan potensial pengembangan agroindustri perikanan. Bencana Lumpur Lapindo di kawasan Porong telah menimbulkan kerugian ekonomi terutama dengan menurunnya kualitas air di Sidoarjo yang berdampak pada menurunnya produktivitas usaha di sektor perikanan, pertanian dan industri.

Penurunan produksi ikan di Kabupaten Sidoarjo penyebab utamanya adalah adanya lumpur lapindo. Dampak lainnya adalah produksi ikan di Kabupaten Sidoarjo pada 2010-2011 mengalami penurunan sebesar 79%. Kondisi ini juga terjadi di Desa Kedung Peluk Candi Sidoarjo dimana kuantitas dan kualitas hasil tambak mengalami penurunan. Hasil tambak berupa bandeng dan udang yang selama ini menjadi “Icon” Kabupaten Sidoarjo mengalami penurunan.

Kecamatan Candi bersebelahan langsung dan berada di sebelah selatan Kota Sidoarjo yang hanya berjarak ± 6 Km dari pusat kota Sidoarjo. Sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Tulangan, sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan Tanggulangin dan Porong, sedangkan sebelah utara dan timur berbatasan dengan kecamatan Sidoarjo. Kecamatan Candi merupakan salah satu kecamatan yang memiliki luas tambak 1.032 hektar dengan produksi utama bandeng dan udang.

Sebagian besar petambak di Desa Kedung Peluk memproduksi bandeng dan udang. Penurunan kuantitas dan kualitas hasil bandeng dan udang karena adanya dampak lumpur lapindo, menyebabkan pendapatan masyarakat mengalami penurunan. STIE Perbanas Surabaya melalui program hibah abdimas institusional, hibah IbM tahun 2011 dan 2013 telah mampu memicu tumbuhnya wirausaha dari kalangan ibu-ibu petambak. Ada10 pengusaha pengolahan hasil tambak, diantaranya UD. Al-Barokah dan Kelompok Usaha Bandeng Badjuri

Pengembangan usaha pembuatan krupuk ikan ini berbeda dengan produk krupuk lainnya. Ikan yang banyak digunakan dan menjadi keunggulan adalah ikan gabus dan ikan payus. ikan gabus tidak terlalu baik karena secara fisik tidak banyak diminati oleh masyarakat dan agak susah dikembangkan di pertambakkan. Ikan gabus banyak dikembangkan di kawasan perairan sekitar tambak seperti sungai kecil, hulu sungai, rawa-rawa sekitar tambak. Ikan gabus ini menjadi musuh para petambak karena gemarnya memakan ikan lain khususnya udang.

Sedangkan ikan payus ini sejenis bandeng yang bentuknya lonjong atau sering menyebut sebagai bandeng jantan. Petambak senang bila membudidayakan bandeng betina karena dapat mudah dikembangbiakkan. Industri krupuk ikan gabus dan ikan payus ini dilakukan oleh ibu-ibu petambak dan menjadi andalan Desa Kedung Peluk Candi Sidoarjo.. Ada 3 orang industri kecil yang khusus pembuatan krupuk.. Aneka krupuk yang dihasilkan antara lain: krupuk udang, krupuk bandeng, krupuk lele, krupuk mujair dan krupuk gabus. Namun, yang sering dilakukan hanya memproduksi krupuk ikan gabus dan ikan payus yang paling banyak diminati oleh pemesan.

Hits: 4947